
TANGISANMU TANGISANKU
Prolog :
Saat senja menjelang aku duduk-duduk dengan sobat-sobatku, kemudian kami berbincang-bincang tentang kekalutan negeri ini karena ulah para koruptor. Lalu aku mengutarakan tentang seluruh isi pikiranku pada sobat-sobatku tercinta.
Setting :
Di teras rumah saat senja menjelang.
Monolog :
Begini sobat, aku ingin cerita kepadamu.
Enam puluh empat tahun lalu negeri kita merdeka.
Merah putih berkibar gagahnya.
Namun… aku tak bangga.
Aku tetap tak bahagia.
Lihat orang-orang negeri ini!!! LIhat sobat!!!
Sekarang hitung sobat!
Berapa banyak orang yang cinta pada negeri ini???
Berapa??? Berapa sobat???
Sekarang kau lihat orang-orang bertahta yg duduk bersantai disana!
Orang-orang pilihan rakyat.
Banyak dari mereka yang tak cinta negeri ini.
Mereka hanya cinta harta-harta negeri ini.
Apa mereka tak malu???
Aku saja yang hanya jadi penonton malu sekali.
Malu aku jadi orang Indonesia.
Yang aku heran sobat.
Mereka tak malu melakukan itu semua.
Orang kalau masih punya kemaluan pasti masih punya malu.
Tapi mereka???
Kesimpulannya sobat, anjing-anjing itu sudah tak punya kemaluan lagi.
Tak usah kau pikir bagaimana memasang kemaluan pada mereka!
Mengingatkan mereka hanya omong kosong belaka.
Hanya buang-buang waktu dan tenaga.
Kadang sobat, aku ingin menangis diatas semua kekalutan ini.
Huru-hara negeri kita, juga huru-hara kita pula.
Ha..ha..ha..
Kadang aku menertawakan anjing-anjing yang menggonggong saat mereka tertangkap dan dibuikan.
Bagus lah itu, agar virus anjing gilanya tak menular pada kita.
Namun…… sobat.
Semua kekalutan yang mereka ciptakan membelenggu kita.
Hikz..hikz..
Aku ingin menangis sobat.
Aku ingin tersedu sobat.
Bukan untuk semua kekalutan ini.
Aku ingin menangis untuk negeri ini.
ABDULLAH AL-HAZMY / XI IPA 1 / 8537
